top of page

Penggunaan Air pada Data Centre: Kualitas Air Pendingin, Water Treatment, dan Monitoring

Writer: Agus Umar Yasin
Agus Umar Yasin
Oct 19
7 min read

Kinerja data centre bergantung pada kemampuan sistem pendingin memindahkan panas secara stabil. Di balik chiller, heat exchanger, dan liquid cooling, kualitas air menentukan apakah perpindahan panas tetap efisien atau perlahan terganggu oleh kerak, korosi, deposit, dan biofilm. Karena itu, pengelolaan air perlu diperlakukan sebagai bagian dari keandalan infrastruktur digital.


Di mana air digunakan pada data centre?


Tidak semua data centre menggunakan air dengan cara atau intensitas yang sama. Pemilihan teknologi pembuangan panas, iklim, beban IT, dan temperatur operasi memengaruhi kebutuhan air. Liquid cooling pada server juga tidak otomatis berarti konsumsi air rendah: hasil akhirnya bergantung pada bagaimana panas dibuang di sisi fasilitas. [1,2]


Sistem

Peran air atau fluida

Implikasi pengolahan

Cooling tower / evaporative cooling

Panas dilepas melalui penguapan; diperlukan make-up dan blowdown.

Kendalikan konsentrasi mineral, deposit, korosi, dan mikrobiologi.

Closed-loop chilled water / facility water system (FWS)

Fluida bersirkulasi menuju coil atau heat exchanger.

Prioritaskan kebersihan, inhibitor, integritas sistem, dan pengendalian masuknya udara.

Direct-to-chip / technology cooling system (TCS)

Coolant mengalir melalui cold plate; lazimnya dipisahkan dari FWS oleh heat exchanger pada CDU.

Ikuti spesifikasi OEM untuk fluida, partikel, material, dan kimia coolant.

Dry cooling / air-cooled heat rejection

Pembuangan panas menggunakan udara; air dapat tetap berada dalam sirkuit tertutup.

Kebutuhan make-up evaporatif dapat berkurang; evaluasi energi dan kapasitas pada cuaca panas.

Immersion cooling

Perangkat direndam dalam fluida dielektrik, bukan air pendingin biasa.

Air mungkin tetap digunakan pada sisi sekunder; perlakukan kedua jenis fluida secara terpisah.


FWS dan TCS tidak boleh disamakan. ASHRAE menjelaskan bahwa saluran cold plate dan perpipaan internal server lebih sensitif terhadap kontaminasi dibandingkan heat exchanger pada sisi fasilitas. Batas kualitas air harus ditetapkan untuk setiap sirkuit. [1]


Mengukur kebutuhan air dengan WUE


Water Usage Effectiveness (WUE) membandingkan penggunaan air di lokasi dengan energi perangkat IT pada periode yang sama, dalam L/kWh. Penyebutnya adalah energi IT, bukan total energi gedung. Nyatakan batas pengukuran dengan jelas, termasuk apakah angka yang dilaporkan mencakup seluruh penggunaan air lokasi atau hanya sistem pendingin. [3]


WUE = penggunaan air lokasi (liter) ÷ energi IT (kWh). Untuk skenario harian: air (m³/hari) = WUE (L/kWh) × beban IT rata-rata aktual (kW) × 24 ÷ 1.000.


Skenario WUE

Beban IT rata-rata

Air per hari

0,2 L/kWh

10 MW

48 m³

1,0 L/kWh

10 MW

240 m³

1,8 L/kWh

10 MW

432 m³


Angka di atas merupakan simulasi matematis, bukan benchmark teknologi atau prediksi fasilitas tertentu. Kapasitas terpasang 10 MW belum tentu berarti beban aktual 10 MW. Neraca air juga perlu membedakan pengambilan air, konsumsi melalui evaporasi, air buangan, dan air yang digunakan kembali. WUE perlu dibaca bersama efisiensi energi serta ketersediaan sumber air setempat.


Kualitas air: tidak ada satu spesifikasi untuk semua sistem


Spesifikasi yang tepat dimulai dari identifikasi sumber air, temperatur operasi, material yang bersentuhan dengan fluida, desain perpipaan, dan persyaratan original equipment manufacturer (OEM). Air yang terlihat jernih belum tentu sesuai: ion terlarut, mikroorganisme, dan partikel halus tidak selalu terdeteksi secara visual.


Untuk cooling tower, evaluasi kesadahan, alkalinitas, silika, klorida, sulfat, pH, konduktivitas, dan padatan tersuspensi. Untuk closed loop, tambahkan perhatian pada oksigen masuk, sisa inhibitor, produk korosi, serta kestabilan fluida. Pada TCS, kompatibilitas cold plate, seal, hose, dan quick disconnect menjadi bagian dari persyaratan kualitas. [4,5]


Sebagai contoh spesifik, OCP Base Specification for Single Phase Water-Based Cold Plate Coolant v1.3 memuat pH 8,0–10,5; total hardness <30 ppm sebagai CaCO₃; TSS <5 ppm; turbidity <5 NTU; serta total viable count <1 CFU/mL. Dokumen tersebut mencantumkan konduktivitas <2.000 µS/cm sebagai baseline dalam wadah pengiriman sebelum pengisian CDU. Angka ini berlaku dalam lingkup coolant berbasis air yang dibahas OCP, bukan batas universal cooling tower, semua produk glycol, atau seluruh server. Spesifikasi OEM dan metode pengujian tetap harus diperiksa. [5]


Air RO atau demineralisasi merupakan pilihan air dasar untuk formulasi tertentu, tetapi bukan otomatis coolant siap pakai. Inhibitor dan bahan penyangga pH dapat menaikkan konduktivitas; karena itu, angka konduktivitas paling rendah tidak selalu menunjukkan perlindungan terbaik. Coolant harus memenuhi persyaratan material dan memiliki Certificate of Analysis (CoA) yang sesuai. [5]


Ilustrasi konseptual unit filtrasi, reverse osmosis, dan chemical dosing untuk pengolahan air fasilitas data centre.

Masalah yang memengaruhi kualitas air dan performa pendinginan


Masalah

Pemicu yang perlu ditelusuri

Dampak operasional

Scaling

Pemekatan mineral, temperatur permukaan, pH, dan alkalinitas.

Hambatan perpindahan panas dan penyempitan jalur aliran.

Korosi

Kimia tidak sesuai material, oksigen masuk, inhibitor menurun, atau pasangan logam berbeda.

Kebocoran, pelepasan ion logam, dan deposit produk korosi.

Fouling partikulat

Debu, lumpur, debris konstruksi, atau filtrasi tidak memadai.

Filter cepat tersumbat, pressure drop meningkat, dan distribusi aliran memburuk.

Biofouling

Nutrien, stagnasi, dan pengendalian mikrobiologi tidak efektif.

Biofilm, hambatan termal, serta potensi korosi terkait mikroorganisme.

Kontaminasi / pencampuran coolant

Top-up salah produk, kebocoran silang, atau residu cleaning.

Perubahan pH, pembentukan endapan, dan kehilangan kestabilan formulasi.

Perubahan sumber air

Pergantian suplai, variasi musiman, atau penambahan reclaimed water.

Program treatment lama tidak lagi sesuai karakteristik air masuk.


Tabel ini merupakan kerangka diagnosis teknik, bukan dasar penentuan dosis. Satu gejala dapat memiliki beberapa penyebab: kenaikan differential pressure, misalnya, perlu dibandingkan dengan laju alir, kondisi filter, hasil analisis partikel, dan riwayat pekerjaan. Pada sirkuit glycol, verifikasi pula konsentrasi dan kondisi fluida sesuai panduan produsennya. [4,6]


Cooling tower memerlukan water management program untuk mengendalikan risiko Legionella. Sisi spray water pada closed-circuit cooling tower tetap dapat menghasilkan aerosol saat beroperasi basah; istilah “closed-circuit” tidak menghilangkan risiko tersebut. Pengendalian sedimentasi, biofilm, stagnasi, serta residu disinfektan perlu dikelola bersama. [7]


Water treatment harus mengikuti karakteristik sumber dan sirkuit


Pendekatan yang disarankan dimulai dengan sampling representatif pada air baku, setelah pretreatment, make-up, cooling tower, serta supply dan return setiap closed loop. Catat kondisi operasi saat pengambilan sampel agar hasil laboratorium dapat dikaitkan dengan beban panas dan kondisi sistem.


Pilihan pretreatment ditetapkan dari hasil analisis: filtrasi untuk partikel; softening untuk kesadahan; dan RO jika pengurangan garam terlarut diperlukan. Softening tidak dapat diperlakukan sebagai pengganti RO untuk pengendalian seluruh garam terlarut. Penggunaan kembali air juga harus memperhitungkan kualitas aktual, kebutuhan disinfeksi, dan konsekuensi terhadap blowdown.


Pada cooling tower, program kimia dapat mencakup inhibitor kerak dan korosi, dispersant, serta biocide yang kompatibel. Pada TCS, gunakan coolant yang disetujui dan prosedur perawatan OEM; jangan menerapkan chemical cooling tower langsung ke sirkuit server. Pemilihan produk dan dosis memerlukan validasi aplikasi, bukan hanya penyamaan nama parameter.


Cycles of concentration: hemat air dalam batas kimia yang aman


Cycles of concentration (CoC) menggambarkan tingkat pemekatan zat terlarut dalam cooling tower. Perbandingan konduktivitas air sirkulasi dan make-up dapat dipakai sebagai pendekatan, dengan memperhatikan pengaruh chemical dosing serta perubahan sumber air. CoC yang lebih tinggi mengurangi kebutuhan blowdown, tetapi targetnya dibatasi potensi scaling dan korosi. [2]


Contoh neraca ideal pada kondisi tunak, dengan drift dan kebocoran diabaikan: blowdown B ≈ evaporasi E ÷ (CoC − 1), sedangkan make-up M ≈ E + B. Jika E = 100 m³/hari, CoC 3 menghasilkan B = 50 dan M = 150 m³/hari. Pada CoC 6, B = 20 dan M = 120 m³/hari. Artinya, simulasi ini mengurangi make-up 20% dan blowdown 60%. Perhitungan ini bukan jaminan penghematan lapangan.


Monitoring apa saja yang diperlukan?


Monitoring perlu menggabungkan sensor online, pemeriksaan lapangan, dan laboratorium. pH, konduktivitas, dan turbidity membantu mendeteksi perubahan kimia atau kontaminasi; temperatur, flow, dan pressure memberikan konteks terhadap pengaruhnya pada pendinginan. Tren lebih bermakna jika dibandingkan pada kondisi beban yang setara. [8]


Matriks berikut adalah usulan titik awal program monitoring, bukan frekuensi wajib atau standar universal. Sesuaikan dengan OEM, jenis coolant, hasil commissioning, kestabilan operasi, serta penilaian risiko fasilitas.


Kelompok / titik ukur

Parameter dan frekuensi awal

Tujuan / tindak lanjut

Operasi termal dan hidraulik

Online: suhu supply–return, flow, pressure, ΔP filter/heat exchanger, level, leak detection.

Alarm dan respons sesuai criticality; evaluasi sumbatan, kehilangan aliran, atau kebocoran.

Cooling tower

Online bila tersedia, diverifikasi harian: pH, conductivity, residu disinfektan; pencatatan make-up dan blowdown.

Evaluasi dosing dan CoC; ORP hanya indikator pendukung, bukan pengganti uji residu spesifik.

Kimia make-up dan tower

Awal mingguan: hardness, alkalinity, chloride, silica, residual inhibitor; tambah sulfate/parameter lain sesuai sumber.

Tinjau batas pemekatan dan kecukupan program treatment.

FWS dan TCS

Online sesuai desain: pH/conductivity/partikel; analisis bulanan awal: inhibitor, Fe/Cu/Al dan glycol bila digunakan.

Bandingkan dengan baseline dan batas OEM; investigasi perubahan sebelum penambahan chemical.

Mikrobiologi

Tower: tren awal mingguan ATP/HPC; TCS sesuai spesifikasi coolant. Legionella mengikuti water management program.

ATP/HPC tidak membuktikan ketiadaan Legionella; metode dan respons ditetapkan bersama pihak kompeten.

Korosi dan kondisi fisik

Coupon/probe sesuai metode dan interval paparan; inspeksi basin, filter, dan deposit terjadwal.

Korelasikan laju korosi dengan logam terlarut, deposit, dan kondisi operasi.

Kinerja sumber daya

Harian: neraca air dan energi IT; bulanan: WUE, CoC, chemical use, dan tren biaya.

Pisahkan perubahan akibat beban, cuaca, kebocoran, dan efektivitas treatment.


Setiap parameter harus memiliki operating range, batas peringatan, batas tindakan, penanggung jawab, dan prosedur eskalasi. Alarm tanpa respons yang jelas hanya menambah data. Contoh: kenaikan konduktivitas TCS diperiksa terhadap temperatur, kalibrasi sensor, riwayat top-up, dan hasil sampel sebelum disimpulkan sebagai kontaminasi.


Mutu data juga penting: tetapkan titik sampling, gunakan wadah dan preservasi sesuai metode, kalibrasikan alat, serta bandingkan pembacaan online dengan pengujian independen. Tingkatkan frekuensi setelah commissioning, perubahan sumber air, penggantian coolant, pekerjaan perpipaan, atau penyimpangan parameter.


Ilustrasi konseptual analisis air pendingin di laboratorium, pengukuran pH, pengujian sampel, dan evaluasi coupon korosi.

Peran laboratorium dan uji coba sebelum implementasi


Pengujian tidak berhenti pada satu laporan kualitas air. Sebelum penerapan, susun acceptance criteria bersama operator dan OEM: kompatibilitas material, kestabilan formulasi, kemampuan filtrasi, pengendalian korosi, serta kebersihan mikrobiologis. Uji laboratorium atau recirculating test loop dapat membantu membandingkan kandidat treatment pada kondisi yang relevan.


Jar test berguna bila pretreatment melibatkan koagulasi–flokulasi, tetapi tidak membuktikan kompatibilitas coolant dengan cold plate. Untuk sirkuit server, evaluasi perlu mencakup material nyata, temperatur, dan kondisi aliran. Setelah flushing dan cleaning, verifikasi kebersihan serta kualitas pengisian sebelum menghubungkan perangkat IT. ASHRAE menekankan pentingnya kesiapan sistem hidronik saat commissioning. [9]


Saat field trial, dokumentasikan baseline, perubahan treatment, kondisi beban, dan hasil berkala. Keberhasilan sebaiknya dinilai melalui beberapa indikator sekaligus: stabilitas pendinginan, tren korosi dan deposit, konsumsi air, kebutuhan chemical, serta kemudahan pemeliharaan.


Menghubungkan efisiensi air dengan keandalan operasi


Pengurangan pemakaian air harus berjalan bersama perlindungan aset. Menaikkan CoC tanpa analisis, menurunkan dosis tanpa verifikasi, atau mengganti coolant tanpa pemeriksaan kompatibilitas dapat memindahkan biaya air menjadi risiko gangguan operasi.


Untuk mendiskusikan kebutuhan water treatment data centre—mulai dari karakterisasi sumber air, evaluasi program kimia, hingga penyusunan monitoring dan rencana uji coba—hubungi Indonesia Harvest Chemical melalui sales@harvestchemical.co.id. Rekomendasi aplikasi perlu didasarkan pada data fasilitas dan persetujuan OEM.


Referensi











 
 
 

Comments


© 2026 PT Indonesia Harvest Chemical · Member of AIKKI & IdWA
Harvesting Quality Chemistry Solutions

bottom of page